Becak Tua Pak Samad


Pagi adalah hal yang paling dibenci oleh pak Samad. Bagaimana tidak, sinar matahari yang menerobos masuk  ke rumah sederhana itu memaksanya untuk bangkit dari tidurnya. Ia harus mengais rezeki untuk putrinya Aisyah yang baru berusia 2 tahun dan juga istrinya yang lumpuh setelah kelahiran Aisyah putrinya.
Ketika matahari terbit, pak Samad sudah mengayuh becaknya ke pasar dan sekolah sekolah untuk menjemput rezekinya. Setidaknya pak Samad punya satu langganan dipasar dan juga satu di sekolah.  Ditengah kelelahan mengayuh sepeda, pak Samad dikejutkan dengan suara lembut yang memanggilnya dari belakang. Yah itu adalah suara salah satu pelanggannya, namanya  Icha siswi kelas dua SMP.
“ Alhamdulillah, aku tidak terlambat hari ini, mbak Icha belum berangkat ke sekolah” gumam Pak Samad seraya memutar balik becaknya.
Pak Samad penuh kekecewaan ibarat disambar petir di tengah terik matahari yang membakar kulit hitamnya. Icha berangkat ke sekolah dengan teman prianya.
“ Pak,,, maaf hari Icha berangkat ngak naik becak bapak. Icha duluan ya pak” seru Icha sambil melambaikan tangannya.
“ Ah,,, sial,,, benar- benar sial pelangganku direbut lelaki itu” gumam  pak Samad seraya menghapus  cucuran keringatnya yang semakin deras.
Di sisi lain, saat pak Samad pergi ke pasar. Ia tak menemukan satu pelanggan pun termasuk Bu Rita, pelanggan setianya selama ini. Mungkin beliau tidak ke pasar saat itu. Pak Samad benar- benar berputus asa kali ini, ia merobohkan tubuhnya ke dalam becaknya yang sudah tua itu. Saat ia terbuai dalam lamunan tiba- tiba ia mendengar suara anak kecil yang sedang menangis mencari orang tuanya.  Ditengah badai yang menimpa Pak Samad, hatinya masih tergerak untuk membantu anak ini mencari ibunya. Ia menggendong anak ini keliling pasar, namun nasib buruk masih saja menimpa pak Samad. Si ibu anak kecil yang ia tolong menuduh pak Samad menculik anaknya.
Ditengah keramaian pasar, pak Samad diamuk massa. Semua orang berburuk sangka padanya. Tak satu pun orang yang mau mendengarnya. Darah. Pak Samad meninggalkan tempat itu babak belur dan berlumuran darah. Ia mencoba mengayuh becaknya dengan sekuat tenaga, namun sesekali kakinya terlepas dari sepeda. Pak Samad benar- benar bernasib buruk hari itu.
Sekitar jam lima sore pak Samad tiba di sebuah danau yang tak jauh dari rumahnya. Ia menceburkan dirinya ke danau itu. Ia tak tahu harus berbuat apa lagi agar bisa menghidupi anak dan istrinya yang sangat ia cintai. Yah dulu sebelum istrinya lumpuh, keluarga pak Samad masih hidup bercukupan. Sesekali istrinya pergi berjualan ikan di pasar sebelum beliau jatuh sakit. Namun, kali ini istri tercinta pak Samad itu tak dapat melakukan apa- apa lagi. Mengingat anaknya yang masih balita menambah beban pak Samad, ia harus membeli susu untuk anaknya, namun saat ia memasukkan tangannya ke kantong celananya yang compang camping itu, tak sepersen pun uang ia temukan. Pikiran pak Samad mulai berkecamuk, ia pusing bagaimana caranya ia bisa mendapatkan uang untuk makan dan membeli susu.
            Lelah. Itulah perasaan  pak Samad pulang ke rumahnya sambil mengayuh roda becaknya dengan lemah tak beradaya. Ia tak tau harus berkata apa saat tiba di rumahnya.
Tok,,, tokk,,, tokkkk,,.,
Pak Samad mengetuk rumahnya dengan ragu.
“ Assalamualaikum bu,,, bapak pulang” suara pak Samad tampak  sangat lelah.
“ Waalaikum salam pak,,, masuk ni Aisyah sudah nungguin bapak dari tadi” sambut istri pak Samad sambil menebar senyum manisnya dan mengelus kepala putrinya.
Tanpa ia sadari air matanya mengalir dengan deras di depan istri dan anaknya.
“ Bu ,,, Aisyah,,, maafkan bapak. Hari ini bapak tidak dapat apapun,,, hari ini kita tidak makan bu, Aisyah juga ngak bisa minum susu.” Jelas pak Samad mengelus rambut istri dan anaknya.
“ Pak kita masih bisa makan, hari ini ibu Rita membawa sedikit makanan untuk kita. Ia juga membeli susu untuk Aisyah. Katanya ia tidak ketemu bapak tadi di pasar, jadi ia langsung kesini membawanya sendiri.” Jelas istri pak Samad membuat pak Samad sedikit legah. Mengetahui istri dan anaknya masih bisa makan, pak Samad langsung menyeka air matanya dan sujud syukur.
Janji- janji palsu. Itulah yang terbesik dipikiran pak Samad tentang pemimpin di kota itu. Saat pencalonan mereka semua dengan ramahnya berkunjung ke rumah- rumah warga dan menebar janji- janji palsu, mereka berjanji akan memberikan tunjangan hidup bagi mereka yang lemah ekonominya dan juga merenovasi rumah- rumah warga yang tampak tak berpenghuni. Kini mereka semua sudah jadi pemimpin, tapi pemimpin yang serakah. Mereka melupakan semua janjinya pada rakyatnya setelah mereka menduduki kursi dewan yang empuk. Sepertinya warga kota ini salah memilih pemimpin, mereka yang terpilih jadi pemimpin secara perlahan terjangkit virus korupsi yang sudah lama menggerogoti pemimpin- pemimpin di Indonesia.
Sambil mengayuh  roda becaknya menuju pasar, pak Samad memperhatikan sekelilingnya. Ia membandingkan dirinya dengan orang- orang yang berada di sekelilingnya. Tak tampak seorang pun yang berpenampilan sama dengan pak Samad kecuali sahabat becaknya Pak Dirman. Ia juga memiliki kehidupan yang sangat sederhana, hanya saja yang membedakannya dengan pak Samad karena pak Dirman memiliki istri yang sehat. Setiap hari mereka mencari pelanggan bersama, namun hari ini pak Dirman lebih beruntung. Pelanggan setianya sudah menunggu setiba di pasar.
Di sudut pasar, pak Samad masih mengamati sekelilingnya, mencari pelanggan, namun lagi- lagi ia kurang beruntung. Tak satupun orang mau menaiki becaknya, semua orang berlomba- lomba naik angkot yang terparkir di depan pasar. Yang membuat pak Samad kehilangan harapan adalah saat ia tahu bahwa bu Rita yang merupakan pelanggan setianya sudah pindah ke Bandung. Ia tak lagi tinggal di Jakarta yang kejam itu.
Saat dalam perjalanan pulang ke rumah, pak Samad bertemu dengan Icha pelanggan setia keduanya. Ia pun sangat gembira saat Icha naik ke becaknya. Namun pak Samad harus kembali bersedih saat Icha bercerita bahwa hari itu adalah hari terakhir Icha untuk naik becak. Wajar Icha merupakan anak remaja yang masih labil. Ia lebih memilih untuk diantar oleh pacarnya ke sekolah.
“ Hemmm,,, kenapa harus ada cinta monyet,,,, dasar anak remaja.”  Gumam pak Samad sambil membalas lambaian tangan Icha saat turun dari becak menuju rumahnya.
“Ya Allah mengapa engkau begitu tak adil padaku? Semua pelangganku kini telah pergi. Dimana Allah yang maha Adil? Dimana Allah yang maha penyayang dan maha pengasih itu? mengapa ia tak melihat aku dan keluargaku menderita? Aku lelah,,, aku lelah ya Allah.” Teriak pak Samad sambil membenturkan kepalanya ke becak tua miliknya itu. 
Sekitar jam lima sore pak Samad masih enggan pulang ke rumahnya. Ia tak sanggup pulang tanpa membawa apapun untuk anak istrinya. Sekitar jam enam sore suara adzan berkumandang. Hati pak Samad tak sedikit pun terbesit untuk memenuhi panggilan Allah itu. Tiba- tiba seorang ustadz menghampiri pak Samad yang tengah putus asa itu, ia mengajaknya untuk shalat berjamaah, namun pak Samad masih marah kepada Allah. Ia merasa Allah tidak adil padanya. Sang ustadz hanya tersenyum dan berkata,,,
” Bapak mungkin tidak mendekati- Nya, sehingga Dia juga enggan mendekati bapak” tutur sang ustadz sambil senyum.
“ Maksud ustadz apa?”
“  Begini pak,,, Allah itu memang maha segalanya. Tapi bapak juga harus mendekatinya terlebih dahulu jika bapak berharap Dia mendekati bapak. Ingat pak, jika kita berjalan medekati-Nya, Dia akan berlari mendekati bapak. Intinya bapak harus mendekatkan diri terlebih dahulu. Salah satunya dengan menunaikan shalat.” Tutur sang ustadz membuat pak Samad tak mampu berkata apa- apa lagi.  Ia sadar selama ini ia telah jauh dari- Nya. Tanpa ragu, pak Samad pun ikut shalat berjamaah di masjid. Usai melaksanakan shalat sang ustadz mengajak pak Samad ngobrol di teras masjid. Pak Samad tanpa ragu menceritakan semua tentang anak dan istrinya, akhirnya sang ustadz menyodorkan sebuah amplop yang berisi uang untuk pak Samad membuka usaha.
Hari itu Pak Samad menyadari bahwa Allah itu maha segalanya, hanya saja selama ini ia jauh dari-Nya. Rezeki yang ia peroleh dari sang ustadz, ia gunakan untuk membuka usaha bengkel di depan rumahnya. Sisanya ia gunakan membeli jarum dan benang, mengingat istrinya lihai dalam merajut. Setelah beberapa bulan berbisnis keluarga pak Samad pun hidup bercukupan. Alhamdulillah Allah mengirim sang ustadz sebagai perantara untuk menuntun pak Samad.




















Komentar